Kisah Juwairiyah Istri Nabi Muhammad Saw, Cerita Islami Yang Menyentuh Hati

TABIRDAKWAH - Banyak kaum muslimin wal muslimat yang belum mengetahui semua kisah tentang Istri istri Rasulullah Saw, salah satunya kisah ummul mukminin yang satu ini, ialah Juwairiyah putri dari Harits,  yang merupakan istri ke delapan Rasulullah SAW, semoga bisa menambah wawasan kita nantinya

Cerita dan riwayat tentang Juwairiyah Istri nabi ini kami temukan cukup singkat dan padat, untuk versi lengkap belum kami temukan, namun bila da waktu akan kami update, setelah menemukannya dengan sumber yang valid dan masyhur

Kisah dan riwayat ini kami ambilkan dari beberapa sumber masyhur, artinya sudang sering dijadikan untuk bahan rujukan baik untuk dakwah ataupun untuk kalangan sendiri sebagai bahan bacaan kisah Islami yang inspiratif dan kisah ini bukan sekedar dongeng, namun dapat dikatakan sebagai sejarah, karena ini memang benar benar terjadi kala itu

Kisah Juwairiyah ini sangatlah unik, beda sama Istri nabi yang lainnya, dan sangat cocok bila dijadikan pelajaran dan diambil hikmahnya oleh kaum hawa sekarang terutamanya, mari kita baca bersama-sama sampai akhir

Kisah Juwairiyah Istri Nabi Muhammad Saw


Sebelum masuk Islam, dia bernama Barrah. Kemudian atas perintah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diganti Juwairiyah. Beliau
wanita istimewa dari kelompok Yahudi Bani Musthaliq. Putri dari pemimpin
yahudi Bani Musthaliq, Harits bin Abi Dhirar. Sebelum menikah dengan Rasulullah, Di kampung nya dulu bani Musthaliq,
Juwairiyah menjadi Istri dari Musafi’ bin Shafwan.

Kisah Pernikahan dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menaklukkan yahudi
Bani Quraidzah karena mereka berkhianat ketika perang Khandaq, terdengar kabar
bahwa Harits bin Abi Nadhr bersama pasukannya Bani Musthaliq dan
beberapa sekutunya dari berbagai suku arab akan menyerang Madinah.
Rasulullah pun menugaskan Buraidah bin Hashib untuk mencari tahu
kebenaran berita ini. Sahabat pemberani ini mendatangi mereka. Setelah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yakin akan kebenaran berita,
beliau memerintahkan para sahabat untuk bergegas menuju Bani Musthaliq.
Ternyata, Harits telah mengirim mata-mata untuk mengintai pasukan kaum
muslimin. Namun para sahabat berhasil menangkap mata-mata ini dan mereka
membunuhnya.

Mendengar kedatangan pasukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan
terbunuhnya mata-matanya, Harits dan pasukannya sangat ketakutan. Hingga
suku-suku arab yang ikut bersamanya membatalkan perjanjian dan pulang ke
daerah masing-masing.

Sampailah pasukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di lembah
Al-Muraisi’. Salah satu daerah sumber air bagi bani Musthaliq. Di
sinilah beliau menyiapkan barisan pasukan dan membagi tugas
masing-masing. Hingga akhirnya, kaum muslimin berhasil mengalahkan bani
yahudi. Di perang ini, terbunuhlah Musafi’ bin Shafwan, suami
Juwairiyah. (Ar-Rahiq Al-Makhtum, hlm. 286)

Juwairiyah menjadi salah satu wanita tawanan ketika itu. Setelah
pembagian, Juwairiyah jatuh pada kepemilikan Tsabit bin Qais. Namun
Tsabit membebaskannya dengan syarat membayar uang tertentu. Hingga
datanglah Juwairiyah menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan
memohon agar dibantu untuk melunasi biaya pembebasan dirinya. Beliau
menerima permohonan ini dan beliau menikahinya dengan mahar pembebasan
dirinya dari status budak.

Setelah mengetahui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi
Juwairiyah, banyak sahabat yang membebaskan tawanannya dari Bani
Mustaliq, sebagai bentuk penghormatan untuk semua ipar Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena peristiwa ini, Juwairiyah
dianggap wanita yang paling berkah bagi kaumnya.

Juwairiyah adalah wanita yang taat ibadah nya.  Ketika shalat subuh berjamaah dengan Rasulullah, walaupun Rasulullah sudah selesai dengan dzikir nya saat matahari terbit, Juwairiyah masih melanjutkan dzikir nya sampai Waktu Dhuha tiba. Dan ketika Rasulullah kembali saat waktu Dhuha, Juwairiyah masih ditempat duduknya melanjutkan dzikir nya.

Beliau hidup hingga masa Khalifah Muawiyah. Meninggal di Madinah tahun 56 H.

Itulah kisah Ummul mukminin Juwariyah binti Harits. Semoga bisa memberi inspirasi bagi kaum mukminin

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel